Minggu, 17 Juli 2016

Roemah Martha Tilaar, Kebumen

Tentang Bangunan:

Roemah Martha Tilaar dibangun pada tahun 1920an oleh Liem Siauw Lam, seorang peternak sapi dan pedagang hasil bumi. Kakeknya, Liem Seng yang berasal dari wilayah Xian Men, Tiongkok datang ke Gombong pada tahun 1830an lewat Batavia dan Tegal. Salah satu alasan menetap di Gombong adalah situasi daerah ini yang relatif stabil karena adanya komunitas Belanda di Benteng Van Der Wijck (actually Cochius Fort). Liem Seng membawa tiga anaknya, Liem Kang Coa, Liem Kang San dan Liem Kang Hay. Ketiga menetap di wilayah berbeda di Gombong dan menjadi salah satu cikal bakal komunitas Tionghoa di Gombong.


Rumah ini sendiri dibangun dengan menggunakan gaya Indische Empire, sebuah gaya arsitektur yang ngetrend di Hindia Belanda saat itu dan diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Rafles. Gaya ini merupakan modifikasi dari Empire Style Eropa yang disesusaikakan dengan iklim tropis. Ciri-cirinya antara lain langit-langit tinggi, beranda depan dan belakang dengan bukaan lebar, serta simetrisnya  posisi jendela dan pintu yang memungkinkan terjadi cross ventilation.

Rumah ini juga mendapatkan pengaruh seorang arsitek terkemuka Amerika Frank Lloyd Wright (berkarya tahun 1900an) dalam beberapa elemen arsitekturnya. Hal ini terlihat dari beberapa ornamen pilar, pintu dan motif kaca patri di gedung ini.


Sempat sekitar empatpuluh tahun terbengkalai, rumah ini akhirnya direnovasi oleh salah satu cucu Liem Siauw Lam yaitu Martha Tilaar. Proses renovasi berjalan selama tigabelas bulan dengan sangat memperhatikan orisinalitas bangunan, untuk kemudian diresmikan pada 6 Desember 2014.


Tentang Ibu Martha Tilaar:

Martha Handana lahir pada 4 September 1937 di RSU Kebumen (waktu itu masih rumah sakit misi zending). Semasa dalam kandungan, Ibu Liem Herna mengalami banyak gangguan kesehatan sehingga dokter memperkirakan bayi dalam kandungan akan lahir sebagai ‘slow learner’ (pembelajar lambat). Dan memang terbukti, di masa sekolah dasar prestasi Martha tidak terlalu menggembirakan.


Untunglah Martha mendapatkan pendamping yang begitu memahami, yaitu neneknya yang biasa dipanggil Mak Oco. Dari nenek ini pulalah Martha mendapatkan warisan berbagai ilmu jamu yang kelak menjadi pondasi berdirinya industri kosmetik Sari Ayu dan rangkaian bisnisnya.

Martha hidup di Gombong sampai usia 10-11 tahun. Masa remaja hingga dewasa dihabiskan di Jakarta. Semasa kuliah di IKIP Jakarta, hatinya tertambat pada dosen ganteng asal Tomohon, Alex Tilaar. Belum genap setahun menikah, Alex berangkat ke Amerika untuk melanjutkan studi. Martha Tilaar kemudian menyusul meski sebenarnya uang beasiswa tak mencukupi untuk hidup mereka berdua. Akhirnya Martha mencari nafkah sebagai seorang baby sitter serta menjual kosmetik Avon dari pintu ke pintu.


Setelah dua tahun bekerja keras, akhirnya Martha dapat mengumpulkan cukup uang untuk belajar di Bloomington Beauty Academy. Sepulang dari Amerika, Martha merintis usaha di garasi rumahnya. Pasang surut dan berbagai romantika dialami sebelum mencapai skala bisnis seperti sekarang ini.


Tentang Roemah Martha Tilaar:

Roemah Martha Tilaar (RMT) hadir di Gombong sejak 4 Desember 2014 dengan membawa dua fungsi utama. Fungsi pertama adalah sebagai destinasi wisata inspiratif. Wisatawan yang datang dapat menimba pengetahuan mengenai budaya dan kehidupan masa lalu sekaligus mereguk inspirasi dari perjalanan hidup seorang Martha Tilaar. Suasana vintage yang tenteram juga menjadi oase menyejukkan bagi mereka yang lelah oleh rutinitas kerja harian.


Sedangkan fungsi kedua adalah menjadi wahana pemberdayaan masyarakat. Semua langkah yang dilakukan bertumpu pada empat pilar Martha Tilaar Group, yaitu Beauty Green (lingkungan), Beauty Culture (seni budaya), Beauty Education (pendidikan) dan Empowering Women/ pemberdayaan wanita. (Sigit)


Lets Visit Kebumen!

Visit Kebumen

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar